PEMALANG, SeputarPemalang.id — Di balik rindangnya vegetasi seluas empat hektare di Desa Bulakan, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang, terhampar sebuah kawasan hutan lindung yang dikenal sebagai Candi Batur Bulakan. Meski tidak menyimpan bangunan candi purbakala, lokasi yang membentang di jalur penghubung Pemalang–Purbalingga ini menawarkan panorama ekologis yang unik, yakni keberadaan lebih dari seribu ekor monyet ekor panjang yang hidup berdampingan secara damai dengan manusia.
Kawasan ini menjadi ruang interaksi yang hangat antara wisatawan dan kawanan Macaca fascicularis. Diperkirakan terdapat sekitar 1.200 ekor monyet yang terbagi dalam beberapa kelompok sosial di area tersebut. Berbeda dengan kawanan satwa liar pada umumnya yang cenderung menghindar atau agresif, primata di Candi Batur justru menunjukkan karakter yang adaptif dan bersahabat. Mereka tak ragu mendekati pengunjung yang membawa buah pisang atau kacang, menghadirkan pengalaman rekreasi yang berkesan bagi setiap pelancong yang singgah.
Di luar daya tarik wisatanya, Candi Batur Bulakan menyimpan jalinan tradisi dan kepercayaan lokal yang masih dirawat masyarakat setempat. Aktivitas memberi pakan primata kerap dikaitkan dengan harapan keberkahan, sementara pantangan tak tertulis seperti larangan mengenakan pakaian berwarna hijau muda masih dihormati pengunjung. Di salah satu sudut hutan, keberadaan mata air alami yang kerap dimanfaatkan untuk ritual adat turut memperkuat dimensi spiritual kawasan tersebut.
Geliat pariwisata berbasis komunitas ini terbukti mampu menggerakkan roda perekonomian warga Desa Bulakan melalui penjualan pakan satwa dan usaha kuliner lokal. Kendati demikian, kebiasaan primata yang kian terbiasa dengan pakan manusia memunculkan tantangan baru, seperti sifat monyet yang semakin berani mendekati kendaraan maupun barang bawaan.
Kondisi tersebut menegaskan pentingnya langkah pengelolaan yang berkelanjutan. Edukasi tata cara pemberian pakan, penyediaan zona makan khusus, serta pelestarian vegetasi dan sumber air menjadi kunci utama untuk memelihara keseimbangan kawasan. Candi Batur Bulakan pada akhirnya bukan sekadar destinasi singgah, melainkan gambaran tentang bagaimana hubungan yang harmonis antara manusia dan lingkungan dapat terus terjalin melalui sikap saling menghormati.