PEMALANG, SeputarPemalang.id — Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, menyimpan beragam rekam jejak sejarah dari masa lampau yang masih berdiri hingga kini. Salah satu warisan era kolonial yang memiliki nilai histori tinggi adalah kompleks pemakaman Belanda yang berada di kawasan pesisir Kelurahan Widuri, Kecamatan Pemalang, tidak jauh dari jalur utama menuju area pantai.
Di area kompleks pemakaman kuno tersebut, berdiri sebuah tugu penanda bernama Tugu Leitje. Istilah leitje sendiri berasal dari bahasa Belanda yang merujuk pada arti batu tulis. Di sekitar struktur tugu, terdapat pusara keluarga berkebangsaan Belanda yang memuat pahatan tahun 1883 dengan catatan alamat asal di wilayah Banjardawa, Kecamatan Taman. Berkat nilai sejarah dan keaslian bangunannya, kawasan makam tua ini telah ditetapkan secara resmi sebagai situs cagar budaya oleh Pemerintah Kabupaten Pemalang guna melestarikan aset peninggalan masa lalu.
Keberadaan situs peninggalan kolonial di kawasan pesisir utara Jawa ini memiliki keterkaitan erat dengan dinamika politik masa Kesultanan Mataram pada akhir abad ke-17. Ketika kekuasaan VOC mulai meluas di pesisir utara pasca-perjanjian pasca-pemberontakan era Mataram, kontrol atas wilayah Pesisir Utara Jawa secara bertahap berpindah tangan. Situasi historis tersebut mendorong tumbuhnya pemukiman, aktivitas industri, hingga pemakaman keluarga-keluarga Eropa di berbagai wilayah strategis Pemalang, termasuk para pengelola industri gula pada era Hindia Belanda.
Secara geografis, situs peninggalan sejarah ini terletak di tepi Jalan Yos Sudarso, menjadikannya sangat mudah terlihat oleh masyarakat maupun wisatawan yang melintas. Hingga saat ini, kondisi Tugu Leitje beserta struktur makam di sekelilingnya masih terawat dengan baik. Kekokohan batu penanda tersebut menjadi bukti fisik yang merekam jejak perjalanan sejarah kolonialisme dan perkembangan wilayah di Kabupaten Pemalang dari era ke era.