Cerita-cerita tersebut memiliki posisi penting sebagai bagian dari tradisi lisan. Namun, tradisi lisan perlu dibedakan dari fakta sejarah yang telah dibuktikan melalui sumber primer, penelitian arkeologis, atau sumber sejarah yang dapat diverifikasi.
Karena itu, kisah mengenai tokoh, kerajaan, maupun peristiwa tertentu yang berkembang di sekitar Watu Tumpeng lebih tepat disampaikan sebagai cerita atau kepercayaan masyarakat apabila belum terdapat bukti yang cukup untuk mengonfirmasinya sebagai fakta sejarah.
Pembedaan ini bukan berarti mengabaikan cerita masyarakat. Sebaliknya, tradisi lisan merupakan bagian dari warisan budaya takbenda dan dapat memberikan gambaran tentang bagaimana suatu komunitas mengingat, memahami, dan memberi makna terhadap tempat yang dianggap penting.
Dengan kata lain, sebuah situs dapat memiliki dua lapisan informasi yang berjalan berdampingan: bukti material yang diteliti secara ilmiah dan ingatan kolektif yang diwariskan melalui masyarakat.
Situs yang Masih Memiliki Fungsi Spiritual
Watu Tumpeng juga belum sepenuhnya terpisah dari kehidupan sosial masyarakat.