Karena itu, pengembangan Watu Tumpeng idealnya berjalan bersama dengan penelitian, dokumentasi, pemeliharaan, edukasi, dan keterlibatan masyarakat setempat.
Menjaga Bukti, Menghargai Ingatan
Watu Tumpeng merupakan salah satu bagian dari lanskap budaya Pemalang bagian selatan. Nilainya tidak hanya terdapat pada batu atau struktur yang masih dapat dilihat saat ini, tetapi juga pada konteks arkeologis, sejarah, tradisi lisan, dan hubungan masyarakat dengan situs tersebut.
Bagi pemerintah, Watu Tumpeng merupakan cagar budaya yang memiliki kewajiban untuk dilindungi. Bagi peneliti, situs ini merupakan sumber data untuk mengembangkan pengetahuan tentang sejarah dan kebudayaan lokal. Sementara bagi masyarakat, Watu Tumpeng dapat menjadi bagian dari ingatan, identitas, dan tradisi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di sinilah tantangan pelestarian menjadi lebih kompleks. Membuat Watu Tumpeng dikenal publik memang penting, tetapi pengenalan tersebut perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga karakter dan nilai situs.
Informasi yang telah dibuktikan melalui penelitian perlu disampaikan sebagai fakta. Sementara cerita yang hidup di tengah masyarakat tetap dapat diperkenalkan sebagai tradisi lisan, dengan keterangan yang jelas mengenai status informasinya.
Cara tersebut membantu publik memahami bahwa warisan budaya tidak hanya terdiri atas apa yang dapat dibuktikan melalui tinggalan fisik. Ia juga mencakup cara masyarakat mengingat dan memaknai tempat tersebut—selama keduanya ditempatkan secara proporsional.
Pada akhirnya, Watu Tumpeng bukan hanya tentang batu yang menyerupai tumpeng. Ia adalah ruang pertemuan antara tinggalan material, penelitian sejarah, tradisi lisan, kehidupan sosial, dan ingatan masyarakat.
Di Pemalang, sebagian jejak masa lalu itu tidak hadir dalam bentuk prasasti atau bangunan monumental. Sebagiannya tersimpan dalam batu, petilasan, lanskap, serta cerita yang terus diwariskan. Tugas generasi sekarang bukan hanya mengenalnya, tetapi juga memastikan agar bukti yang tersisa tetap terjaga dan ingatan masyarakat tentangnya tidak kehilangan konteks.